Bulan di Balik Cemara

Hey temen-temen!

Nih, aku mau kasih satu suguhan. Cerpen buatanku yang menjadi juara harapan lomba cerpen Lip Ice Selsun 2009. Selamat membaca ;)

BULAN DI BALIK CEMARA

Aula sekolah terasa pengap. Udara kota Surabaya sungguh panas siang ini. Aku segera keluar ketika ruangan besar itu mulai sepi. Tas ransel sekolah yang menggantung di punggungku terasa kian berat. Sesekali aku menyeka keringat yang membasahi dahiku yang tertutup poni. Meski tak ada cermin, aku bisa membayangkan betapa berantakannya rambut sebahuku. Persiapan pesta perpisahan kakak-kakak kelasku, yaitu kelas XII tahun ini menjadi beban berat bagiku sebagai ketua OSIS.

Aku segera menuju halaman parkir, menemui sebuah mobil sedan Audi. Di sana sudah menunggu seorang sahabatku, Qinthara, dengan sopir pribadinya, Pak Roni. Melihatku datang, Pak Roni segera membukakan pintu untukku.

“Makasih, Pak,” ucapku sekenanya sambil membanting ransel beratku ke jok mobil.

“ Hai, Qin. Lama menunggu, ya ?” sapaku.

“Lumayan. Tapi nggak terasa. Aku menunggumu sambil baca buku. Sudah beres persiapan untuk besok ?” tanya Qinthara  sambil membetulkan letak kruknya. Tongkat itu diletakkannya di depan ia duduk. Tongkat itulah yang setia menopang tubuh sahabatku itu sejak kakinya patah.

It’s OK. Aku belum pulang kalau belum beres,” jawabku sambil menyandarkan punggungku pada jok mobil yang empuk itu.

Mobil berwarna hitam metalik itu pun meninggalkan halaman parkir, melaju di atas aspal jalanan yang hampir leleh tertimpa panas. Aku melihat pejalan kaki di sepanjang jalan yang kami lalui. Mereka menutup hidung, bahkan terkadang mata, menyelamatkan diri dari serangan debu panas jalanan. Oh, betapa bersyukurnya aku. Kini aku tak lagi tersengat udara panas dan debu seperti itu. Tidak seperti setahun lalu, ketika aku selalu berboncengan sepeda motor dengan Qinthara setiap pergi dan pulang sekolah.

Qinthara adalah seorang gadis yang rendah hati. Ia tidak sombong. Meski orang tuanya pengusaha kaya, namun ia tak mau dimanjakan dengan antar-jemput mobil-mobil mewah dan sopir pribadinya. Ia lebih suka bersepeda motor.

“Lebih lincah,” kata sahabat sejak SMP yang memang berpembawaan lincah itu. “Belum waktunya aku naik mobil. Lagian itu kan mobil orang tuaku,” lanjutnya ketika itu. Qinthara lebih suka menggunakan uang yang dia miliki untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Secara periodik aku diajaknya berkunjung ke panti asuhan. Hanya berdua saja. Ia tak mau ada yang tahu perihal kesenangannya membantu orang lain itu. Anak-anak jalanan di setiap perempatan yang kami lalui pun selalu mendapat uang atau makanan darinya. Qinthara selalu membawa tas kecil berisi uang recehan. Tapi bukan uang koin. “Jangan koin. Terlalu kecil nilainya,” kata Qinthara menasehatiku perihal memberi.

Tapi mengingat kejadian itu, aku jadi ingin membantahnya. “Tidak semua kebaikan hati kita dibalas dengan kebaikan juga, bukan ?” bantahku dalam hati. Nyatanya kini Qinthara harus berjalan dengan bantuan kruk justru karena kebaikan hatinya.

Hampir tertidur aku di dalam mobil yang sejuk itu karena terlalu capek. Tiba-tiba aku tersentak ketika mendengar suara ketukan pada kaca di sampingku. Seorang anak muda berpenampilan lusuh menadahkan tangannya ke arahku. Di perempatan jalan ini memang aku mengenal betul anak-anak jalanan yang selalu meminta-minta saat lampu lalu-lintas menyala merah. Tiba-tiba hatiku menjadi marah. Segera aku buka kaca di samping tempat dudukku.

“Hei, kamu ! Masih mau mengharap pemberian kami ?” teriakku geram. Anak jalanan itu tidak menarik tadahan tangannya. Ia malah semakin melotot memandangiku.

“Pergi kamu !” hardikku. “Belum puas dengan mencelakakan temanku, sampai ia patah kaki tak bisa jalan ?”

Laki-laki berambut ikal itu memang tak mengucapkan sepatah kata pun. Tapi dari matanya aku bisa membaca bahwa hatinya mendidih mendengar makianku. Tangan kanannya mulai mengepal. Matanya yang merah menyiratkan kemarahan. Dadanya yang telanjang menampakkan gerak naik-turun yang cepat.

“Manusia seperti kamu bikin muak. Pergi !” teriakku lebih keras.

Tangannya semakin mengepal keras. Lengannya mulai ditarik ke belakang, siap meninjuku. Tak ada ketakutanku sama sekali. Dendam dan sakit hatiku mengalahkan rasa takut itu. Untuk membalaskan cacat kaki sahabatku, aku siap meladeni mereka, manusia yang tak tahu berterima kasih.

Ketika gerakan tinjunya semakin dekat ke arahku, tiba-tiba Pak Roni melarikan mobilnya dengan kencang. Aku diselamatkan dari tinju oleh lampu hijau.

“Sabar, Karen. Kamu tidak perlu kasar begitu pada mereka,” kata Qinthara dengan lembut.

Aku memandang sahabatku bagai menatap langit di pagi hari nan cerah. Wajahnya yang cantik dan teduh bak birunya langit. Tutur katanya lembut terlontar dari dalam hatinya yang halus bak awan-awan putih yang memendarkan cahaya mentari dari balik gumpalan tipisnya. Perilakunya yang santun seperti hembusan angin yang mengelus lembut daun-daun hijau berhias bunga aneka warna. Kadang aku merasa tak pantas menjadi sahabatnya. Aku yang suka berbicara kasar ibarat geledek yang memecah keheningan alam.

“Bram adalah seorang remaja yang terluka hatinya sangat dalam,” komentar Qinthara tentang laki-laki jalanan yang kumaki-maki tadi. “Sebenarnya ia baik,” sambungnya memuji. “Dialah yang selalu memberiku semangat kala itu. Dia mengajariku untuk suka memberi dan menolong orang lain. Dia seorang pemuda yang penuh cita-cita. Orang tuanyalah yang salah memperlakukan dia ketika mereka tertekan dengan kegagalan bisnisnya.” Mata indah Qinthara menerawang mengisahkan kebaikan sahabatnya.

Bramlah orang yang menyebabkan Qinthara celaka. Waktu itu, seperti biasa, kami membagi uang ribuan kepada anak-anak jalanan di perempatan yang kami lalui dengan berboncengan sepeda motor. Menurut Qinthara, itu sebagai uang sarapan pagi mereka karena ia tak sempat membelikan nasi bungkus. Itu dilakukan oleh sahabatku setiap berangkat ke sekolah.

Entah apa yang ada dalam pikiran Bram, ia yang biasanya menerima pemberian Qinthara berapa pun besarnya, kali itu ingin merebut tas kecil yang dibawa Qinthara. Ini dilakukannya ketika lampu lalu-lintas baru saja menyala hijau. Qinthara yang sedang terburu-buru berangkat ke sekolah segera melajukan motornya. Saat itulah Bram menarik tas kecil Qinthara hingga kami berdua terjatuh. Lalu lintas sedang padat saat itu. Qinthara yang terjatuh, kakinya terlindas mobil di belakang kami yang juga sedang tancap gas. Sementara aku terpental ke tepi selokan, selamat hanya lecet-lecet saja.

Aku masih ingat ketika Qinthara menceritakan hubungan baik keluarganya dengan keluarga Bram. Orang tua Qinthara adalah teman bisnis orang tua Bram. Awalnya mereka sangat akrab dan sama-sama berhasil dalam bisnis. Bram pun menjadi sahabat baik Qinthara sejak kecil. Mereka sering bermain bersama, entah berdua saja, atau bersama-sama orang tua masing-masing. Bram juga sering belajar bersama di rumah Qinthara. Ia seorang yang cerdas, cocok jadi teman belajar Qinthara yang juga pintar.

Krisis ekonomi ternyata menggoyahkan persahatan kedua keluarga ini. Karena kesalahan mengelola usaha, keluarga Bram akhirnya jatuh miskin karena usahanya bangkrut. Sementara keluarga Qinthara masih tetap bertahan berkat kegigihan ayah Qinthara. Keadaan ini menimbulkan kesalahpahaman yang tajam antara kedua keluarga itu. Maka persahabatan yang telah lama terjalin itu pun putuslah. Dalam keadaan seperti ini, orang tua Bram melarangnya untuk berhubungan dengan Qinthara. Bisnis keluarga Bram benar-benar jatuh. Mereka tak punya harta apa-apa lagi selain hutang yang tak terbayar. Sampai-sampai untuk membiayai sekolah Bram pun orang tuanya tak sanggup. Sejak itulah Bram menjadi anak yang putus asa. Setiap hari ia hanya duduk-duduk di perempatan jalan. Mula-mula hanya mengamati ulah anak-anak jalanan di sana. Lama-kelamaan ia pun ikut bergabung bersama mereka. Bahkan karena badannya yang besar dan suaranya yang berwibawa, ia diangkat sebagai bos mereka.

Sejak Bram memutus persahabatan, Qinthara merasa sangat kehilangan. Sebenarnya Qinthara tidak mempedulikan status sosial yang jauh berbeda. Tetapi Bram yang sangat shock dengan keadaan itu tiba-tiba berubah menjadi benci kepada Qinthara dan keluarganya. Perasaan benci itu bahkan tertuju kepada semua orang berada. Ia iri hati setiap melihat anak muda sebayanya yang berkecukupan. Perubahan drastis keadaan keuangan orang tua Bram telah menorehkan luka batin yang sangat dalam.

Tidak demikian dengan Qinthara. Dari dalam hatinya masih terbersit keinginan untuk membantu Bram. Ia masih ingin bersahabat dengan Bram. Terkadang ia merindukan saat-saat bersama Bram, berdiskusi, belajar bersama, atau jalan-jalan sekedar mengisi waktu luang.

“Sampai jumpa lagi besok, Karen,” ucap Qinthara tiba-tiba. Tanpa sadar, mobil telah sampai di depan rumahku. Segera aku mengangkat ransel sekolahku lalu keluar dari mobil.

“Terima kasih, Pak Roni,” ucapku. “Oh ya, Qin, besok kita pulang lebih awal. Lalu sore harinya ke sekolah lagi mengikuti acara perpisahan itu.”

“Iya, aku ingat,” jawab Qinthara sambil tersenyum manis.

***

Semalam aku hampir tak bisa tidur. Hatiku gelisah. Pikiranku terus bertanya-tanya, mengapa Qinthara bisa sesabar itu. Sementara aku memendam kebencian yang ingin menuntut pembalasan atas kemalangan yang menimpanya. Langit-langit kamarku seolah berubah menjadi layar lebar. Sesekali wajah Bram tergambar sangar di sana. Sesekali muncul raut lembut sahabatku yang mengundang iba.

Jelas tertangkap olehku kerinduan Qinthara untuk bersahabat kembali dengan Bram. Tapi aku begitu dendam kepada lelaki itu. Ah, betapa egoisnya aku. Kenapa aku tak memikirkan perasaan Qinthara. Ia sudah menderita secara fisik. Aku harus membantu menyenangkan hatinya.

Kemauanku yang semakin kuat mendorongku untuk segera berbicara dengan Qinthara. Segera aku meraih telepon di samping tempat tidurku. Lalu kupencet nomor Qinthara. Namun aku segera tersadar. Kulihat jam dinding di kamarku sudah menunjuk lewat tengah malam. Aku pun mengurungkan niatku. Dengan nekat aku mengirim pesan singkat kepadanya. Lalu hatiku pun tenang. Meski tidurku hanya beberapa jam, namun pikiranku mengisyaratkan bangun pagi-pagi dengan hati tersenyum.

“Bagaimana tidurmu semalam, Qin ?” tanyaku ketika pagi-pagi ia sudah menjemputku.

“Wah, nggak bisa tidur. Aku membaca SMS-mu segera sesudah kuterima”

“Curang, kamu. Kenapa tidak kaubalas ?” ucapku sambil memukul lengan kanannya dengan tangan kiriku.

“Kalau aku balas, kamu akan tahu bahwa aku juga tak bisa tidur,” jawabnya. Kami pun tertawa bersama. Suasana di dalam mobil pun ceria, secerah langit di luar yang bermandikan cahaya mentari pagi.

Tanpa terasa kami telah sampai di perempatan jalan. Lampu lalu lintas menyala merah. Empat anak muda berlarian mendekati mobil Qinthara. Ada yang membawa tongkat bambu, ada pula yang membawa potongan ranting kayu. Mereka menuju pintu mobil sebelah kiri. Ah, aku ingat. Mereka pasti mencariku. Kemarin memang aku duduk di sisi kiri. Tapi pagi ini Qintharalah yang duduk di situ.

Perlahan Qinthara membuka kaca jendela, lalu mengucapkan salam kepada mereka.

“Awas, Non, mereka mau menyerang kita !” teriak Pak Roni cemas.

Qintara minta Pak Roni meminggirkan mobilnya ke tempat yang memungkinkan. Anak-anak muda dengan pentungan itu pun berlari-lari kecil mengikuti. Dengan tenangnya Qintara membuka pintu. Perlahan dia keluar dengan kruk penopang kakinya, menuju sebuah taman tempat anak-anak jalanan berkumpul.

“Bisa kita bicara ?” tanya Qinthara kepada teman-teman Bram itu. Mereka tidak menjawab. Salah seorang yang membawa tongkat bambu hanya diam berdiri dengan angkuhnya sambil memukul-mukulkan tongkat itu ke telapak tangannya sendiri.

“Tolong bisa panggilkan Bram ? Saya mau bicara,” pinta Qinthara.

Tak seorang pun menjawab. Seorang di antara mereka mulai berulah. Dipukulkannya ranting kayu yang dibawanya ke kruk Qinthara, meski tidak terlalu keras. “Sabar, tolonglah saya, panggilkan Bram. Saya mau bicara.”  Qinthara menenangkan anak-anak jalanan itu. Wajahnya sangat tenang. Lalu iapun melempar pandangan ke sekeliling mencari keberadaan Bram.

Aku hanya mengamati kejadian itu dari dalam mobil. Qinthara melarangku untuk ikut turun. Demikian juga Pak Roni. Ia tetap mengamati dari belakang kemudi.

“Tunggu !” teriak seorang pemuda dari kejauhan ketika para anak jalanan itu mulai kasar terhadap Qinthara. Sambil tergesa-gesa mengenakan bajunya, pemuda itu berlari mendekat ke arah gerombolan anak jalanan, teman-temannya.

“Bram,” seru Qinthara hampir tak terdengar.

Kami menunggu dengan cemas dari dalam mobil, apa yang bakal terjadi. Tampak Bram melarang teman-temannya mengganggu Qinthara. Dengan gerakan bola matanya dan sedikit gerakan kepalanya ia menyuruh mereka menjauhi Qinthara. Merekapun menurut.

Qinthara tampak mengatakan sesuatu kepada sahabat masa kecilnya itu. Tampak Bram pun menjawab. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Dengan mata melihat ke bawah Bram tak menghindar dari Qinthara yang semakin mendekat. Perlahan ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Bram. Pemuda itu diam mematung. Kepalanya masih tertunduk. Aku melihat Qinthara mengucapkan sesuatu. Wajahnya teduh dihiasi senyuman.

Bunga matahari berwarna kuning-coklat berayun-ayun di taman itu. Angin pagi menggoyang perlahan tangkainya nan panjang. Dua kupu-kupu terbang beriringan pada jarak yang terjaga sama. Satu ekor berwarna kuning-jingga. Seekor lainnya hitam berbelang putih. Ketika kupu-kupu kuning-jingga hinggap pada setangkai kembang, si hitam-putih turut hinggap di dekatnya, berhadap-hadapan sangat dekatnya. Terpaan angin yang mengayun tangkai bunga itu tak mereka hiraukan.

Pada saat yang bersamaan aku melihat dua insan di sana berhadapan semakin dekat. Wanita berseragam SMA itu tersenyum manis. Tangan kanannya dijulurkan. Sementara sang lelaki tinggi hitam tampak menyambut uluran tangan itu sambil tetap tertunduk. Kedua insan itu bersalaman. Sejurus kemudian Bram, lelaki itu, mulai melirikkan matanya ke arah Sang gadis.

Hatiku ingin menangis menyaksikan adegan itu. Aku melirik Pak Roni. Ia pun hampir menitikkan air matanya. Betapa tidak. Pak Roni adalah sopir setia keluarga Qinthara. Ia mengenal Qinthara sejak ia masih bayi.

Setelah mengucapkan sesuatu, Qinthara pun melepaskan tangan Bram lalu menuju mobil. Kami berpelukan. Sementara itu Pak Roni mulai melanjutkan perjalanan ke sekolah kami.

Aku teringat ide Qinthara yang ingin mengajak Bram kembali bersekolah. Ah, biarlah pagi ini aku menemui Kepala Sekolah untuk membicarakan rencana Qinthara. Hatiku bersorak, lupa kegelisahan semalam. Tak pernah aku sesemangat ini. Sebuah rekonsiliasi telah terjadi.

***

Aula yang kemarin terasa pengap, sore ini tak lagi. Aku bisa menghirup udara segar dan dingin di ruang yang penuh dengan dekorasi itu. Terkadang bau harum bunga hias merasuki hidungku. Meski tidak sempat istirahat hari ini, aku tak merasa lelah. Siang tadi aku tak ikut Qinthara pulang karena harus selesaikan persiapan acara malam ini.

Ratusan murid dan orang tuanya telah memenuhi kursi-kursi yang tertata rapi. Tak ada yang tidak tersenyum. Tawa lebar bahkan tampak di antara mereka yang saling bersalaman dan berpelukan. Hingar-bingar musik memenuhi ruangan. Siswa kelas sebelas menampilkan band dengan  irama musik yang menghentak. Kelas sepuluh menampilkan beberapa tarian modern, pantomim, dan pembacaan puisi. Guru-guru juga memberi kejutan dengan paduan suaranya yang kompak.

Suasana sunyi sejenak ketika pembawa acara mempersilakan Ibu Rosa, kepala sekolah kami, tampil ke atas panggung.

“Malam hari ini adalah malam yang penuh suka-cita. Semua siswa kelas XII telah berhasil menyelesaikan tugas belajarnya di sekolah yang kita cintai ini. Anak-anak kita lulus seratus persen,” kata Sang Kepala Sekolah dengan lantang. Hadirinpun bertepuk tangan riuh.

“Marilah kita sambut keberhasilan ini dengan penuh rasa syukur. Tugas belum selesai. Jalan masih panjang. Teruslah menuntut ilmu setinggi mungkin. Beberapa siswa yang lulus juga telah menemukan universitas terkenal. Ini sunggung membanggakan,” lanjut Bu Rosa ditimpa sorak-sorai anak-anak dan tepuk tangan para orang tua.

“Namun ada yang lebih membanggakan lagi,” lanjutnya. “Karena salah seorang siswa di sekolah ini telah menunjukkan hatinya yang mulia.”

Bu Rosa tiba-tiba diam. Dibiarkannya suasana sunyi sejenak. Semua hadirin terdiam. Mereka bertanya-tanya.

“Malam ini kita mengundang beberapa anak muda yang akan menerima beasiswa. Anak-anak muda yang selama ini kurang beruntung itu, malam ini menjadi orang yang paling beruntung. Mereka yang selama ini terhenti pendidikannya karena alasan ekonomi, mulai besok akan kembali bersekolah. Mereka adalah anak-anak muda yang cerdas. Tiga orang akan kita terima di kelas X sekolah kita.”

Kepala Sekolah itu menoleh ke arah samping panggung, seperti ada yang ia cari. Sejenak kemudian melanjutkan, “Saya minta tiga siswa baru naik ke atas panggung.”

Tepuk tangan hadirin kembali riuh menyambut tiga orang yang naik ke atas pentas. Aku yang sejak tadi sibuk di belakang para undangan segera menyeruak ke depan ingin melihat. Antara percaya dan tidak, aku melihat anak-anak sebayaku yang wajahnya telah kukenal. Mereka biasa kutemui di perempatan jalan. Seorang yang berbadan tinggi itu ialah Bram. Hatiku berteriak girang.

“Tiga orang bersekolah di sekolah kita, dua orang di SMP dan lima anak di SD. Kesepuluh siswa mendapatkan beasiswa dari Bapak dan Ibu Budiharja, orang tua siswa kita, Qinthara Qeeneta.” Hadirin kembali bertepuk tangan mendengar pengumunan Sang Kepala Sekolah.

Setelah dipersilakan, Qinthara pun naik ke atas panggung bersama kedua orang tuanya. Mereka secara simbolis menyerahkan beasiswa kepada kesepuluh orang yang menjadi siswa baru.

Aku hampir tak bisa menahan tetesan air mataku ketika Qinthara menyerahkan tas sekolah kepada Bram. Keduanya bersalaman lama sekali seolah enggan melepaskannya lagi. Kedua orang tua Qinthara juga menyalami dan memeluk Bram, anak sahabat mereka itu.

Aku keluar ruangan, berdiri menengadah ke langit. Tampak bintang-bintang menghiasi angkasa. Bulan hampir penuh bersemayan tepat di atas pucuk pohon cemara yang berdiri tegak di halaman sekolah. Mula-mula tertutup awan. Beberapa saat kemudian awan kelabu terusik dari wajah bulat cerah rembulan oleh hembusan angin. Perlahan-lahan bulan bergerak turun. Semakin ia mendekati pucuk pohon cemara. Kubiarkan air mataku meleleh membasahi pipi. Aku diam mengagumi alam sambil terus menyanyikan lagu syukur dari dalam hati, sampai rembulan dan pucuk daun cemara itu bersentuhan, laksana dua hati sahabat-sahabatku. Aku pun segera pulang ketika sang bulan hampir sepenuhnya tertutup daun-daun cemara. Celah-celah dedaunan terisi sinar lembut sang rembulan. Ah, Qinthara, sahabatku. Hatimu pun bak bulan purnama. Meski rimbun dedaunan menghalangimu, namun sinarmu tak sirna.

***

Pengirim :

KARINA DANASTRI HANINDITA

SMPK STELLA MARIS SURABAYA

2009

Gimana cerpenku? baca yaa.. Terima Kasih :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.